Produk Kosmetik Yang Tidak Halal

Produk Kosmetik Yang Tidak Halal – Label Halal dan Ceruk Bisnis Kosmetik Global Nilai pasar global kosmetik halal mencapai US$20,25 miliar pada tahun 2015.

Beberapa waktu lalu, pengunjung Pasar Asemka Jakarta menjajal produk kosmetik sebagai bagian dari kampanye cerdas memilih dan menggunakan kosmetik yang aman. ANTARA FOTO/Riwan Awal Lingga

Produk Kosmetik Yang Tidak Halal

JAKARTA – Saat ini tidak sulit menemukan iklan kosmetik di media konvensional dan jejaring sosial. Di era digital, tidak jarang perempuan langsung mengklik iklan di layar komputer

Rekomendasi Brand Makeup Dan Skincare Asal Korea Yang Halal Dan Aman Bagi Muslimah (2023)

Belakangan ini, iklan produk kosmetik dengan label “Halal” turut meramaikan dunia periklanan kosmetik. Mulai dari brand Indonesia yang terkenal dengan label halalnya hingga berbagai produk luar negeri yang mengaku halal, para wanita penggila gaya hidup halal berlomba-lomba memasarkan diri untuk mendapatkan pilihan.

Jumlah penggemarnya tidak bisa dibilang kecil. Tak hanya perempuan muslim, perempuan non-muslim juga tergiur dengan iklan untuk membeli produk kecantikan berlabel halal. Tak heran jika perempuan kerap menjadi pengguna setia saat mulai beriklan.

Spire Research and Consulting mengatakan faktor kemurnian, keamanan dan kebersihan kosmetik halal kini diterima oleh populasi non-Muslim di negara-negara seperti China dan India. Faktanya, pada tahun 2016, konsumen non-Muslim menyumbang hampir 30 persen penjualan kosmetik halal.

Ketertarikan masyarakat untuk menggunakan kosmetik halal terlihat dari harga jual yang menarik. Menurut lembaga pemeringkat global Statista, pada tahun 2015 nilai global pasar kosmetik halal mencapai 20,25 miliar dolar AS. Nilainya diproyeksikan tumbuh menjadi $54,16 miliar pada tahun 2022. Artinya ada peningkatan hingga 167,46 persen hanya dalam waktu 7 tahun.

Ini Alasan Produk Kosmetik Harus Mengantongi Sertifikat Halal Mui

Besarnya potensi nilai kosmetik halal global disebabkan oleh terus tumbuhnya pasar Muslim global. Spire Research and Consulting mencatat bahwa pengeluaran global untuk kosmetik halal mencapai $55 miliar per tahun pada tahun 2017 saja.

Belanja negara untuk kosmetik halal diperkirakan meningkat sebesar 14,6 persen per tahun hingga tahun 2021. Dengan proyeksi pertumbuhan ini, potensi belanja global untuk kosmetik halal dapat mencapai US$72,5 miliar pada tahun ini saja.

Potensi penjualan kosmetik halal tidak terlepas dari besarnya pasar produk tersebut yang menyasar umat Islam di seluruh dunia. Dimana populasi umat Islam di dunia telah mencapai 1,6 miliar jiwa atau seperempat jumlah penduduk bumi.

Tren kosmetik halal pun sudah merambah ke Indonesia. Pada tahun 2010, banyak merek kosmetik Indonesia yang mulai bangga menyebut dirinya kosmetik halal. Sebut saja Make Over yang merupakan “adik” dari brand ternama Wardah yang didirikan pada tahun 2010. Ada pula Zoya Cosmetics, pakaian muslim cabang Zoya yang masuk ke dunia kosmetik Indonesia pada tahun 2013.

Pdf) Perlindungan Hukum Konsumen Muslim Atas Produk Pangan Tidak Bersertifikat Halal Di Kota Batam

Merek kosmetik luar negeri seperti Safi asal Malaysia yang masuk ke nusantara pada 2018 pun tak ketinggalan.

Seperti diketahui, kehalalan produk kosmetik tersebut dibuktikan dengan sertifikat halal yang dikeluarkan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI). Sertifikat Halal sendiri merupakan fatwa tertulis yang menyatakan kehalalan suatu produk menurut kaidah Islam, termasuk bahan dan proses produksinya.

Produk yang terdaftar dalam data LPPOM MUI untuk sertifikasi Halal tidak hanya berasal dari merek kosmetik yang memiliki slogan utama Halal, seperti Wardah dan Safi. Merek generik lainnya seperti By Lizzie Para (BLP), L’Oreal, Moor’s, Emina, Caring dan Beauty Story sudah mulai mendapatkan sertifikasi halal untuk produknya.

Secara keseluruhan, total pendapatan pasar kosmetik halal dan non-halal di Indonesia diperkirakan mencapai USD 497,7 juta pada tahun 2019, berdasarkan data Statista. Hingga tahun 2023, pendapatan dari pasar diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,6% per tahun. Pasar kosmetik unik dan halal telah berkembang secara signifikan.

Kosmetik Implora Halal Atau Tidak? Ini Data Mui (2022)

Warda merupakan pionir kosmetik di industri kosmetik halal dan telah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Merek ini mulai menawarkan produk kosmetik halal pada tahun 1999 setelah mendapat sertifikasi halal.

Lahir pada tahun 1995, merek ini mengalami pertumbuhan penjualan hingga 40% dalam tiga tahun terakhir. Elsa Maharani, Public Relations Manager Wardah Cosmetics, mengakui pertumbuhan penjualan Wardah juga dipengaruhi oleh tren hijrah yang lazim terjadi di kalangan umat Islam Indonesia.

Belakangan ini, sesuai dengan tren tersebut, kebutuhan akan produk halal berubah dari sekedar gaya hidup menjadi sebuah tuntutan karena ajaran agama.

Hal ini juga berdampak pada kita, karena masyarakat mulai memperhatikan kosmetik halal saat shalat. “Dulu orang terlalu suka dengan merek luar negeri,” kata Elsa

Apakah Kosmetik Yang Kamu Gunakan Sudah Halal

Elsa juga menjelaskan kelangsungan hidup Varda terus berlanjut dengan menciptakan inovasi-inovasi baru pada produk yang dibuatnya. Varda pun tak segan-segan menggandeng sejumlah selebriti sebagai brand duta untuk mendongkrak penjualan.

Dengan lebih dari 300 pilihan produk, merek tersebut baru-baru ini bahkan mengidentifikasi komunitas non-Muslim sebagai target pangsa pasarnya. Jaminan keamanan produk yang dapat diverifikasi adalah suatu keharusan dan diyakini dapat diterima oleh banyak orang di luar komunitas Muslim.

Sebab, sebenarnya Warda tidak hanya digunakan oleh umat Islam saja, namun juga oleh non-Muslim. “Dengan label Halal, kami ingin pasarnya tidak hanya menjangkau umat Islam, tapi juga non-Muslim,” kata Elsa.

Indo (30), seorang pekerja swasta di Jakarta Selatan, mengetahui pentingnya hidup sesuai aturan agama, kata Elsa. Menurutnya, meski kosmetik hanya digunakan pada kulit atau bagian luar tubuh, namun menggunakan kosmetik halal sama pentingnya dengan memilih makanan halal untuk dimakan.

Rekomendasi Skincare & Kosmetik Halal Untuk Pancarkan Kecantikan Mulia Para Muslimah

Inda mengaku khawatir penggunaan kosmetik yang tidak berlabel halal dapat mengganggu ibadahnya. Ia mencontohkan bahan kosmetik tidak memungkinkan air langsung meresap ke kulit saat dicuci, terutama untuk produk kosmetik tahan air (

). Belum lagi kosmetik tanpa label halal diragukan mengandung pengotor atau unsur haram lainnya.

“Air cucian harus jatuh ke wajah dan menyerapnya. “Tapi karena kita menggunakan riasan yang tebal, terutama riasan yang tahan air, riasan kita tetap utuh meski terkena air,” ujarnya.

Saking pedulinya dengan produk kecantikan halal, Inda rela merelakan banyak produk kecantikan asal Negeri Paman Sam yang tak berlabel halal MUI.

Produk Kosmetik Pinkflash Halal Dan Aman Bpom?

“Saya suka melihat Maybelline dan Revlon karena warna lipstiknya cantik. “Tapi saya ragu karena sertifikat halalnya belum ada,” kata Indah.

Berbeda dengan Indy, Ayudhya (25), seorang ibu rumah tangga, mengaku masih kurang suka memberi label saat membeli kosmetik. Perhatikan komposisinya

Harus membeli produk yang berlabel halal. “Apalagi merek luar negeri jarang yang memiliki label halal,” jelas wanita berhijab ini.

Meski kosmetik jenis ini diperbolehkan digunakan saat upacara keagamaan, Ayu mengaku masih belum tertarik membeli kosmetik berlabel halal. Selain itu, ia melihat kosmetik dengan tanda halal terkadang memiliki sifat tahan air.

Produk Kosmetik Di Indonesia Wajib Bersertifikasi Halal

“Warda memang terkenal halal, tapi banyak produk seperti maskara dan eyeliner yang tidak benar-benar tahan air. “Jadi akan membingungkan kalau voodoo menjadi sahengaksih,” ucapnya.

Mengabaikan label halal pada kosmetik, Ayu mengaku belum mengetahui perbedaan produk halal dan non-halal. Selain Ayu yang mempertanyakan keabsahan penggunaan kosmetik saat beribadah, Ayu juga belum mengetahui bahan kosmetik apa yang diberi label tidak halal atau najis.

. Jika kosmetik dengan label ACF menjamin tidak ada hewan yang diuji selama proses penelitian ilmiah pembuatan kosmetik tersebut.

Ayu bahkan menduga banyak orang seperti dirinya kini memilih kosmetik berlabel ACF, bukan halal. Pokoknya hal itu dilihatnya dari kebiasaan teman-temannya dan banyaknya informasi yang didapatnya dari sejumlah media.

Kosmetik Nivea Halal Buat Kamu Yang Mulai Berhijab

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lukmanul Hakim mengakui, masyarakat belum mengetahui label halal pada produk kosmetik. Penyebab masih banyaknya produk kosmetik tanpa logo Halal adalah rendahnya literasi masyarakat dan produsen.

Seiring berkembangnya tren kosmetik halal di Indonesia dan dunia, diketahui bahwa jumlah produk kosmetik yang telah mendaftarkan proses sertifikasi halal semakin meningkat.

Menurut Luqman, kesadaran masyarakat terhadap label halal pada kosmetik berbeda nyata dengan kesadaran akan label halal pada produk makanan. Selain itu, banyak produk kosmetik impor yang tidak diwajibkan memiliki label halal sejak awal.

. “Apa gunanya sertifikasi halal kalau produsen jadi tolok ukur konsumen dan konsumen menerimanya?” kata Lukman saat dihubungi.

Perlukah Barang Gunaan Bersertifikat Halal ?

Ia juga menekankan perlunya mempertimbangkan dan mengutamakan label halal pada kosmetik. Pasalnya, banyak peluang untuk mencampurkan bahan-bahan haram atau haram ke dalam suatu produk kosmetik. Misalnya saja mengenai kemungkinan penggunaan campuran lemak hewani pada produknya, karena dianggap paling nyaman dan mudah diaplikasikan pada kulit.

Luqmanul kembali menegaskan, sangat penting adanya label halal pada kosmetik. Memang banyak kosmetik yang menggunakan unsur-unsur yang berasal dari babi, anjing atau hewan liar, serta bahan-bahan yang mengandung darah, bangkai, dan alkohol.

“Kalau bicara produk hewani, bukankah ada banyak ruang untuk halal dan haram? Selain komponen daging babi, banyak juga hewan yang tidak halal. Direktur LPPOM MUI: “Hewan yang mati bisa menjadi najis meski dalam bentuk bangkai,” jelasnya.

Sekadar informasi, LPPOM MUI melakukan pengujian kehalalan bahan baku produk kosmetik, termasuk pengujian bahan baku asal hewan dan tumbuhan. Sama halnya dengan kandungan bahan kimia pada kosmetik, namun hanya sekedar tambahan saja. Selain itu, kosmetik yang berlabel halal harus terbukti mampu melewati kulit melalui urine.

Sindografis: Hati Hati Dan Waspada, Ini Ciri Ciri Skincare Abal Abal

Perusahaan kosmetik tidak hanya menguji produknya untuk mendapatkan sertifikasi halal. Sistem ini dianggap sebagai kewajiban produsen untuk memproduksi barang halal.

Sistem jaminan halal juga mencakup manajemen perusahaan, peralatan perusahaan, proses produksi, bahan produksi dan audit halal internal.

Luqman juga menyayangkan keputusan pemerintah yang menunda penerbitan sertifikasi halal kosmetik. Memang, jika sertifikasi halal produk kosmetik diperkuat sejak awal, maka konsumen dan produsen akan sadar akan tanda halal di atas. Oleh karena itu, bisa dipastikan produk yang digunakan masyarakat aman dan sesuai syariat Islam.

Tak hanya MUI, Badan Pengawas juga mengawasi peredaran kosmetik di Indonesia.

Brand Kosmetik Halal Lokal Yang Digandrungi Muslimah

Kosmetik yang tidak halal, produk kosmetik yang halal, produk kosmetik korea halal, produk kosmetik halal mui, produk kosmetik halal, produk kosmetik halal di indonesia, produk kosmetik lokal yang halal, kosmetik yang halal, kosmetik yang aman dan halal, kosmetik implora halal atau tidak, produk kosmetik korea yang halal, kosmetik tidak halal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *